Sejarah Terbentuknya Cakranegara
Pada masa
pemerintahan Dalem Watu Renggong
(abad XV), kerajaan Gelgel di pulau Bali
mengalami puncak kebesaran. Daerah kekuasaannya sampai di luar
pulau Bali meliputi : Lombok, Sumbawa, dan
Blambangan. Setelah Dalem
Watu Renggong meninggal, ia digantikan oleh dua orang putranya yang belum
dewasa, yaitu yang sulung bernama I Dewa Pemayun, kemudian setelah di angkat
menjadi raja bergelar Dalem Bekung dan yang lebih kecil bernama I Dewa Anom
Saganing, bergelar Dalem Saganing. Karena umurnya masih muda, dalam
menyelenggarakan pemerintahannya, mereka di dampingi oleh lima orang yaitu : I Dewa Gedong Arta, I Dewa
Anggungan, I Dewa Nusa, I Dewa Bangli, dan I Dewa Pasedangan. Mereka adalah
putra dari I Dewa Tegal Besung, adik dari Dalem Watu Renggong. Jabatan patih
agung pada saat itu di pegang oleh I Gusti Arya Batanjeruk, dan semua kebijakan
pemerintahan ada di tangan patih agung Batanjeruk. Situasi seperti ini lama
kelamaan menimbulkan ketidakpuasan dikalangan pejabat kerajaan. Tampaknya
gelagat Batanjeruk untuk mengambil alih kekuasaan dari tangan kedua raja yang
masih muda itu telah di ketahui oleh penasehat raja Dang Hyang Astapaka.
Penasehat raja ini telah menasehati Batanjeruk agar tidak melakukan hal yang
membahayakan, karena pengikut raja cukup kuat. Namun, nasehat Dang Hyang
Astapaka itu tidak di hiraukan oleh Batanjeruk sehingga ia meninggalkan istana
kerajaan Gelgel menuju kesebuah desa bernama Budakeling yang terletak di daerah
Karangasem Bali.
Pada tahun 1556, terjadilah kekacauan di kerajaan Gelgel. Patih Agung Batanjeruk dan salah seorang pendamping raja yaitu I Dewa Anggungan mengadakan perebutan kekuasaan. Pasukan kerajaan Gelgel dapat melumpuhkan pasukan Batanjeruk. Akhirnya Batanjeruk melarikan diri ke Desa Bungaya, masih dalam wilayah Karangasem dan ditempat itulah ia di bunuh oleh pasukan Gelgel pada tahun 1556. Istri dan anak angkatnya yang bernama I Gusti Oka dapat menyelamatkan diri, mengungsi dikediaman Dang Hyang Astapaka di Budakeling, sedangkan para keluarga lainnya ada yang menetap di Batuaya Karangasem. Setelah berlangsung beberapa lama dari meninggalnya Batanjeruk, I Dewa Karangamla tertarik kepada janda Batanjeruk yang pada saat itu tinggal di kediaman Dang Hyang Astapaka. Ia ingin meminang sang janda, namun atas nasehat Dang Hyang Astapaka kepada sang janda agar mengajukan suatu syarat yaitu setelah perkawinannya berlangsung agar I Dewa Karangamla mau mengangkat putranya menjadi penguasa di Karangasem. I Dewa Karangamla setuju. Akhirnya putra yang bernama I Gusti Oka dapat berkuasa di Kerajaan Karangasem. dan mulai saat itulah kekuasaan di Kerajaan karangasem di pegang oleh dinasti Batanjeruk. I Gusti Oka atau di kenal juga dengan sebutan pangeran Oka mempunyai tiga orang istri. Salah satu putranya dari istri yang tertua melanjutkan pemerintahan di kerajaan Karangasem yang bernama I Gusti Anglurah Ketut Karang, disebutkan sebagai raja Karangasem ke III. Kerajaan Karangasem ke III inilah mulai tanpak pengaturan wilayah kerajaan, yaitu dengan didirikan puri Amlaraja yang kemudian bernama puri klodan. Ketika I Gusti Anglurah Ketut karang mengalami masa pemerintahannya, ia menyerahkan kekuasaan kepada ketiga putranya yang laki-laki untuk memerintah bersama-sama.
Pada tahun 1556, terjadilah kekacauan di kerajaan Gelgel. Patih Agung Batanjeruk dan salah seorang pendamping raja yaitu I Dewa Anggungan mengadakan perebutan kekuasaan. Pasukan kerajaan Gelgel dapat melumpuhkan pasukan Batanjeruk. Akhirnya Batanjeruk melarikan diri ke Desa Bungaya, masih dalam wilayah Karangasem dan ditempat itulah ia di bunuh oleh pasukan Gelgel pada tahun 1556. Istri dan anak angkatnya yang bernama I Gusti Oka dapat menyelamatkan diri, mengungsi dikediaman Dang Hyang Astapaka di Budakeling, sedangkan para keluarga lainnya ada yang menetap di Batuaya Karangasem. Setelah berlangsung beberapa lama dari meninggalnya Batanjeruk, I Dewa Karangamla tertarik kepada janda Batanjeruk yang pada saat itu tinggal di kediaman Dang Hyang Astapaka. Ia ingin meminang sang janda, namun atas nasehat Dang Hyang Astapaka kepada sang janda agar mengajukan suatu syarat yaitu setelah perkawinannya berlangsung agar I Dewa Karangamla mau mengangkat putranya menjadi penguasa di Karangasem. I Dewa Karangamla setuju. Akhirnya putra yang bernama I Gusti Oka dapat berkuasa di Kerajaan Karangasem. dan mulai saat itulah kekuasaan di Kerajaan karangasem di pegang oleh dinasti Batanjeruk. I Gusti Oka atau di kenal juga dengan sebutan pangeran Oka mempunyai tiga orang istri. Salah satu putranya dari istri yang tertua melanjutkan pemerintahan di kerajaan Karangasem yang bernama I Gusti Anglurah Ketut Karang, disebutkan sebagai raja Karangasem ke III. Kerajaan Karangasem ke III inilah mulai tanpak pengaturan wilayah kerajaan, yaitu dengan didirikan puri Amlaraja yang kemudian bernama puri klodan. Ketika I Gusti Anglurah Ketut karang mengalami masa pemerintahannya, ia menyerahkan kekuasaan kepada ketiga putranya yang laki-laki untuk memerintah bersama-sama.
Sistim pemerintahan secara kolektif seperti ini merupakan hal
yang lazim berlaku di kalangan kerajaan Karangasem Bali, di bawah pemerintahan
merekalah kerajaan Karangasem Bali semakin menanjak. Beberapa faktor penting
yang menyebabkan kalangan kerajaan Karangasem Bali semakin meluas : Pertama,
kerajaan Gelgel sebagai pusat pemerintahan di Bali
yang pada masa pemerintahan Dalem Dimade mengalami kemerosotan. Banyak wilayah
kekuasaannya di luar Bali mengembangkan diri,
sedangkan situasi di dalam negeri terpecah belah. Kedua, situasi
politik di Bali antara tahun 1650-1686
memberikan kesempatan kepada kerajaan-kerajaan yang sebelumnya menjadi
taklukkan (vazal), membebaskan diri dari kekuasaan raja tertinggi (sesuhunan)
yang kerajaannya pindah dari Gelgel ke Klungkung. Kerajaan
Karangasem di Bali mengembangkan kekuasaannya ke arah timur yaitu Pulau Lombok
pada tahun 1691, dan membantu kerajaan Buleleng menaklukkan Blambangan pada
tahun 1697. Ketiga,
kekuatan spiritual yang bersumber pada kualitas Supernatural seorang pemimpin,
merupakan tipe-tipe kekuasaan yang kharismatik, yaitu kepercayaan yang
mengembangkan ketentuan raja sebagai Dewa. Hal ini merupakan suatu keunikan
yang dimiliki oleh ketentuan raja-raja di kerajaan Karangasem sehingga dapat
membawa kerajaan Karangasem ke puncak kebesarannya, dan menjadikan sebuah kerajaan
yang terkuat, terutama di Bali dan Lombok.
Selama masa pemerintahan Raja Karangasem ke IV (sekitar tahun 1680-1705) yang di perintah oleh tiga orang bersaudara itu, tidak banyak hal yang di ketahui kecuali penaklukan atas pulau Lombok yang dipimpin oleh I Gusti Anglurah Ketut Karangasem.
Selama masa pemerintahan Raja Karangasem ke IV (sekitar tahun 1680-1705) yang di perintah oleh tiga orang bersaudara itu, tidak banyak hal yang di ketahui kecuali penaklukan atas pulau Lombok yang dipimpin oleh I Gusti Anglurah Ketut Karangasem.
Perluasan Kekuasaan ke Pulau Lombok
Seperti telah disebutkan di atas, pada masa pemerintahan raja
Karangasem ke IV, yang di perintah oleh tiga orang bersaudara yaitu I Gusti
Anglurah Wayan Karangasem, I Gusti Anglurah Nengah Karangasem, dan I Gusti
Anglurah Ketut Karangasem telah berhasil meluaskan kekuasaan ke pulau Lombok
pada tahun 1691. De Graaf
berpendapat bahwa jatuhnya kerajaan Gelgel hampir bersamaan dengan bangkitnya
kerajaan Karangasem Bali dan dikuasainya pulau Lombok. situasi
politik di pulau Lombok pada saat itu juga
memberikan peluang besar kepada kerajaan Karangasem di Bali untuk menanamkan
kekuasaannya di pulau ini.
Hubungan politik antara Bali dan Lombok di lanjutkan oleh kerajaan Karangasem di Bali dengan dua kerajaan besar yang ada di pulau Lombok pada abad XVII, yaitu kerajaan Selaparang di Lombok Timur sebagai kerajaan Pesisir, dan kerajaan Pejanggih di Lombok Tengah sebagai kerajaan Pedalaman. Hubungan ini dimulai ketika kedua kerajaan tersebut, menjalani kekacauan sehingga situasi itu dimanfaatkan oleh kerajaan Karangasem di Bali untuk mengadakan intervensi.
Ada beberapa versi tentang munculnya kerajaan-kerajaan Hindu Bali yang ada di pulau Lombok, antara lain :
Versi Pertama
Hubungan politik antara Bali dan Lombok di lanjutkan oleh kerajaan Karangasem di Bali dengan dua kerajaan besar yang ada di pulau Lombok pada abad XVII, yaitu kerajaan Selaparang di Lombok Timur sebagai kerajaan Pesisir, dan kerajaan Pejanggih di Lombok Tengah sebagai kerajaan Pedalaman. Hubungan ini dimulai ketika kedua kerajaan tersebut, menjalani kekacauan sehingga situasi itu dimanfaatkan oleh kerajaan Karangasem di Bali untuk mengadakan intervensi.
Ada beberapa versi tentang munculnya kerajaan-kerajaan Hindu Bali yang ada di pulau Lombok, antara lain :
Versi Pertama
menurut Babad Lombok intervensi ini bermula dari adanya konflik antara
Patih Banjar Getas dengan raja Selaparang. Raja Selaparang mengutus patih
Banjar Getas pergi ke Bali untuk mencari
kijang putih (mayang putih) yang dipakai sebagai obat. Setelah patih Banjar
Getas pergi ke Bali, raja menyuruh panggil istri Banjar Getas, yang bernama
Dyah Candra Kusuma ke Istana untuk di peristri. Setelah patih Banjar Getas
kembali, ia sadar bahwa dirinya telah ditipu. Karena itulah ia berontak
terhadap raja Selaparang dan minta bantuan kepada kerajaan Karangasem di Bali.
akhirnya kerajaan Selaparang dan Pejanggik dapat di taklukkan oleh kerajaan
Karangasem Bali.
Versi Kedua
Versi Kedua
menurut Babad
Selaparang di sebutkan bahwa raja Selaparang minta bantuan raja Banjarmasin sehingga
akhirnya patih Banjar Getas melarikan diri ke kerajaan Pejanggik. Karena
kecerdasannya ia di anggkat menjadi adipati oleh raja Pejanggik Pemban Mas
Meraja Kusuma. Hal ini menyebabkan hubungan Selaparang dan Pejanggik menjadi
retak. Ketika patih Banjar Getas mengabdi di kerajaan Pejanggik, terjadilah
perselisihan antara patih Banjar Getas dengan istri yang keduanya, bernama Dene
Bini Lala Junti, sehingga pada akhirnya diusir. Dengan hati yang sedih ia pergi
ke hutan Memelak (sebelah utara kota
Praya sekarang), kemudian dari tempat itu ia berlayar ke pulau Bali. Setelah ia sampai di Karangasem Bali, ia
menceritakan kepada raja Karangasem tentang kekalahannya melawan raja
Selaparang, dan memohon bantuan raja Karangasem. sejak itulah kerajaan
Karangasem berangsur-angsur menaklukkan kerajaan di pulau Lombok.
Versi Ketiga
Versi Ketiga
sumber lain
menyebutkan bahwa ketika raja Pejanggik mengutus Arya Banjar Getas pergi
menghadap raja Klungkung dan Karangasem di Bali, raja Pejanggik jatuh cinta
kepada istri Arya Banjar Getas yang bernama Dene Bini Lala Junti. Sekembalinya
dari pulau Bali Arya Banjar Getas mendengar cerita tentang istrinya itu,
sehingga timbul keinginan untuk menantang raja Pejanggik, sesudah ia kalah
menghadapi kekuatan laskar Pejanggik, ia minta bantuan kepada raja Karangasem
di Bali. itulah sebabnya kerajaan Karangasem mengadakan hubungan politik dengan
kerajaan Pejanggik di Lombok. Hubungan ini di perkirakan mulai tahun 1691.
Versi Keempat
Versi Keempat
dalam Pelelintih Sira
Arya Getas di sebutkan bahwa pada masa pemerintahan raja Sri Kresna Kepakisan,
raja ini mengutus Arya Getas menyerang raja Selaparang di pulau Lombok. berkat
keberanian dan ketangkasannya, kerajaan Selaparang dapat di taklukkan, dan Arya
Getas di suruh menetap di Praya Lombok Tengah. Sumber itu juga menyebutkan bahwa Arya Getas berputra tiga orang laki-laki,
yaitu I Gusti Ngurah Praya, I Gusti Warung Getas, dan I Gusti Mangedeb We
Anyar. Setelah berselang empat keturunan, yaitu pada masa pemerintahan Dalem
Dimade di Bali (tahun 1621-1651), salah seorang keturunan Arya getas hanyut di
laut dan terdampar di Lombok Timur dekat Pringgabaya. Anak yang hanyut itu
kemudian dipelihara oleh Datu Pejanggik dan diberi nama Raden Banjar, karena di
perkirakan anak tersebut adalah anak seorang pelaut dari Banjarmasin. Sesudah Raden Banjar menanjak
dewasa, ia terkenal dengan nama panggilan Banjar Getas dan berkat jasa-jasanya
ia diberi gelar Raden Kertapati. Ia kawin dengan Dende Mas Kuning, putri yang
amat cantik, yang menyebabkan raja Pejanggik ingin memperistrinya, tetapi tidak
berhasil. Itulah penyebab timbulnya perselisihan antara Banjar Getas dengan
raja Pejanggik sehingga minta bantuan kerajaan Karangasem di Bali. Pada saat
itu raja I Gusti Anglurah Ketut Karangasem memimpin langsung keberangkatannya
ke pulau Lombok. Banjar Getas yang juga di
kenal dengan julukan Dipating Laga segera menyambut kedatangan pasukan
Karangasem dan menceritakan mengenai dirinya, bahwa ia adalah keturunan Arya Gajah Para dari Tianyar Karangasem
Bali. Situasi menjadi terbalik, pasukan kerajaan Karangasem memihak kepada
Dipating Laga melawan Pejanggik, dan berakhir dengan kekalahan di pihak
Pejanggik. Mulai saat itu kekuasaan Karangasem melebarkan sayapnya ke pulau Lombok.
Versi Kelima
Versi Kelima
menurut Babad Banjar
Getas disebutkan bahwa Banjar Getas adalah seorang pengembara yang berasal dari
Majapahit Jawa Timur. Menurut babad ini, ia adalah keturunan Prabu Kaisari. Ia
melarikan diri ke Lombok beserta 40 orang pengiring, karena ia merasa malu
tidak dapat memenuhi titah rajanya, yaitu Kencana Wungu, untuk membunuh Menak
Jingga. Setelah berbagai pengalaman yang di alaminya di kerajaan Selaparang,
akhirnya ia menghambakan diri di kerajaan Pejanggik, pada raja Dewa Mas Panji.
Berkat kepandaiannya ia sangat berpengaruh di kerajaan Pejanggik sehingga
menimbulkan ke kekhawatiran para pembesar kerajaan. Inilah yang menyebabkan
kerajaan Pejanggik minta bantuan kepada kerajaan Karangasem di Bali untuk membunuh Banjar Getas. Ternyata kemudian raja
Karangasem Bali memihak kepada Banjar Getas
melawan kerajaan Pejanggik. Setelah
Pejanggik dapat ditaklukkan, raja Karangasem dan Banjar Getas membagi wilayah
kekuasaan di pulau Lombok, karajaan Karangasem Bali menguasai Lombok di bagian
Barat, sedangkan Banjar Getas mendapat wilayah Lombok di bagian tengah dan
timur.
Pada wilayah kekuasaan kerajaan Karangasem Bali di pulau Lombok bagian barat, telah berdiri beberapa kerajaan-kerajaan kecil di bawah penguasa-penguasa bangsawan Karangasem Bali. Kerajaan-kerajaan kecil tersebut antara lain : kerajaan Pagesangan, kerajaan Kediri, kerajaan Sengkongo`, kerajaan Pagutan, kerajaan Mataram, dan kerajaan Singasari. Setelah adanya penaklukan terhadap pulau Lombok pada tahun 1691 sampai tahun 1740, di lokasi kerajaan yang dahulunya disebut Singasari inilah diganti namanya menjadi kerajaan Karangasem Sasak, dan kerajaan ini akan menjadi cikal bakal kerajaan Cakranegara.
Pada tahun 1740 itu diperkirakan seluruh Lombok sudah dapat di kuasai oleh kerajaan karangasem Bali. Pendapat ini diperkuat oleh suatu informasi yang menyebutkan bahwa di beberapa daerah seperti Pejanggik, Purwa, dan Langko diharuskan membayar upeti dengan uang, daerah Sokong dan Bayan di kenakan upeti kapas, sedangkan daerah Praya, dan Batu Kliang di kenakan upeti darah (upeti getih) yaitu tidak membayar upeti dalam bentuk material melainkan apabila terjadi perang mereka harus membantu. Hal tersebut diperkirakan sudah berlangsung sejak tahun 1740.
Dibawah pemerintahan Karangasem Bali, kekuatan politik bukan lagi berada di Lombok Timur, melainkan di pusatkan di Lombok Barat. Pada tahun 1741 raja Karangasem Bali menempatkan seorang penguasa I Gusti Wayan Tegeh yang berkedudukan di Tanjungkarang (sebelah selatan Ampenan sekarang atau berada disebelah barat kerajaan Pagesangan). Pada masa pemerintahannya ia berhasil memperkuat kedudukan Karangasem Sasak di pulau Lombok. di bawah perlindungan kerajaan Karangasem Bali, ia melakukan kegiatan dalam bidang perpajakan dan perdagangan. Setelah ia meninggal pada tahun 1775, ia digantikan oleh kedua putranya, yaitu I Gusti Made Karang yang di sebut dengan nama I Gusti Ngurah Made berdiam di Tanjungkarang, dan I Gusti Ketut Karang bertempat tinggal di Pagesangan. Kematian I Wayan Tegeh ternyata menimbulkan perpecahan, karena pengganti-penggantinya itu saling berebut kekuasaan. Konflik ini masih berlangsung sampai permulaan abad XIX dan bersamaan dengan munculnya dua kerajaan kecil lainnya yaitu kerajaan Sakra di Lombok Timur, dan kerajaan Kopang ada di Lombok Tengah.
Pada wilayah kekuasaan kerajaan Karangasem Bali di pulau Lombok bagian barat, telah berdiri beberapa kerajaan-kerajaan kecil di bawah penguasa-penguasa bangsawan Karangasem Bali. Kerajaan-kerajaan kecil tersebut antara lain : kerajaan Pagesangan, kerajaan Kediri, kerajaan Sengkongo`, kerajaan Pagutan, kerajaan Mataram, dan kerajaan Singasari. Setelah adanya penaklukan terhadap pulau Lombok pada tahun 1691 sampai tahun 1740, di lokasi kerajaan yang dahulunya disebut Singasari inilah diganti namanya menjadi kerajaan Karangasem Sasak, dan kerajaan ini akan menjadi cikal bakal kerajaan Cakranegara.
Pada tahun 1740 itu diperkirakan seluruh Lombok sudah dapat di kuasai oleh kerajaan karangasem Bali. Pendapat ini diperkuat oleh suatu informasi yang menyebutkan bahwa di beberapa daerah seperti Pejanggik, Purwa, dan Langko diharuskan membayar upeti dengan uang, daerah Sokong dan Bayan di kenakan upeti kapas, sedangkan daerah Praya, dan Batu Kliang di kenakan upeti darah (upeti getih) yaitu tidak membayar upeti dalam bentuk material melainkan apabila terjadi perang mereka harus membantu. Hal tersebut diperkirakan sudah berlangsung sejak tahun 1740.
Dibawah pemerintahan Karangasem Bali, kekuatan politik bukan lagi berada di Lombok Timur, melainkan di pusatkan di Lombok Barat. Pada tahun 1741 raja Karangasem Bali menempatkan seorang penguasa I Gusti Wayan Tegeh yang berkedudukan di Tanjungkarang (sebelah selatan Ampenan sekarang atau berada disebelah barat kerajaan Pagesangan). Pada masa pemerintahannya ia berhasil memperkuat kedudukan Karangasem Sasak di pulau Lombok. di bawah perlindungan kerajaan Karangasem Bali, ia melakukan kegiatan dalam bidang perpajakan dan perdagangan. Setelah ia meninggal pada tahun 1775, ia digantikan oleh kedua putranya, yaitu I Gusti Made Karang yang di sebut dengan nama I Gusti Ngurah Made berdiam di Tanjungkarang, dan I Gusti Ketut Karang bertempat tinggal di Pagesangan. Kematian I Wayan Tegeh ternyata menimbulkan perpecahan, karena pengganti-penggantinya itu saling berebut kekuasaan. Konflik ini masih berlangsung sampai permulaan abad XIX dan bersamaan dengan munculnya dua kerajaan kecil lainnya yaitu kerajaan Sakra di Lombok Timur, dan kerajaan Kopang ada di Lombok Tengah.
Munculnya Kerajaan Karangasem Sasak di Lombok
Sejak meninggalnya I Gusti Wayan Tegeh pada tahun 1775, Tanjungkarang tidak
lagi memegang peranan penting dan digantikan oleh munculnya kerajaan Karangasem
sasak yang sejak tahun 1720 telah berada di bawah pemerintahan I Gusti Anglurah
Made Karangasem, Dewata di Pesaren Anyar Bali. Tidak banyak yang dapat di
ketahui tentang kegiatannya, namun dalam struktur pemerintahan kerajaan
Karangasem Sasak di Lombok ia menempati status yang paling tinggi yaitu sebagai
wakil (koordinator) kerajaan Karangasem di pulau Bali. pada saat itu raja Mataram berstatus sebagai Patih,
sedangkan raja-raja kecil lainnya seperti kerajaan
Pagutan, Pagesangan, Sengkongo`, dan kerajaan Kediri memiliki status sebagai
manca.
Semua penguasa di masing-masing kerajaan itu masih mempunyai hubungan
kekeluargaan. Untuk menjaga persatuan dan kesatuan diantara mereka, maka pada
tahun 1720 kerajaan Karangasem Sasak di Lombok membangun sebuah pura yang megah
sebagai tempat persembahyangan, yaitu pura
Meru di Cakranegara Lombok sekarang. Raja I Gusti Anglurah Made Karangasem yang kemudian setelah meninggal di sebut
Dewata di Karangasem Sasak, mempunyai dua orang istri dan sepuluh orang anak.
Diantara anaknya itu ada yang bernama Ratu Ngurah Made Karangasem, yang
menggantikannya sebagai raja di kerajaan Karangasem Sasak. Dia kawin dengan
saudara sepupunya yaitu putri dari raja Karangasem Bali, bernama I Gusti Ayu
Agung.
Pada masa pemerintahannya, kerajaan Karangasem Sasak kekuasaannya semakin
besar, beberapa kerajaan kecil seperti kerajaan Sengkongo`, dan kerajaan Kediri pada tahun 1804
ada dibawah kekuasaannya.
Kerajaan Karangasem Sasak Lombok yang dipimpin oleh Ratu Ngurah Made Karangasem ternyata keadaannya makin kuat dan mapan. Oleh karena itu berusaha melepaskan diri dari kekuasaan kerajaan Karangasem di pulau Bali.
Kerajaan Karangasem Sasak Lombok yang dipimpin oleh Ratu Ngurah Made Karangasem ternyata keadaannya makin kuat dan mapan. Oleh karena itu berusaha melepaskan diri dari kekuasaan kerajaan Karangasem di pulau Bali.
sementara itu melihat kekuasaan dari raja
Karangasem Sasak, yang dapat menguasai seluruh Lombok. I Gusti Lanang
Paguyangan (raja Karangasem di Bali pada waktu itu) berusaha menjatuhkan
kerajaan Karangasem Sasak Lombok dengan jalan membesar-besarkan berita bahwa
perkawinan raja Karangasem Sasak dengan I Gusti Ayu Agung tidak sah.
Hal ini dipakai alasan dalam membujuk raja Mataram Lombok I Gusti Ngurah Ketut
Karangasem agar mau menyerang kerajaan Karangasem Sasak.
Pada tahun 1835 raja Karangasem Sasak Ratu Ngurah Made Karangasem meninggal, kemudian digantikan oleh putranya Ratu Gusti Ngurah Panji yang kemudian bergelar I Gusti Ngurah Made Karangasem, dibawah pemerintahannya konflik antara kerajaan Karangasem Sasak dengan kerajaan Mataram semakin tajam, oleh adanya campur tangan dua orang pedagang asing yaitu Mads Lange dari Denmark dan George Morgan King dari Inggris. Mads Lange menjalankan usahanya di pelabuhan Tanjungkarang sedangkan King di pelabuhan Ampenan.. kedua pedagang ini diijinkan oleh raja kerajaan Karangasem Sasak untuk menjalankan usahanya. George Morgan King berambisi sekali untuk mendapatkan monopoli perdagangan di Lombok, sehingga menimbulkan konflik dengan syahbandar Cina di Ampenan. Akhirnya pada tahun 1836 dia diusir dari Ampenan oleh raja Karangasem Sasak sehingga ia pindah ke Kuta Bali. Di Kuta ia tinggal hanya beberapa bulan saja, kemudian dia datang lagi ke Ampenan dan minta perlindungan raja Mataram I Gusti Ngurah Ketut Karangasem. Rupanya pedagang asing itu memanfaatkan sekali situasi konflik antara dua kerajaan tersebut untuk meraih keuntungan, terutama dalam perdagangan senjata, mesiu, dan alat-alat perang lainnya.
Pada bulan Januari 1838 pecahlah perang antara kerajaan Karangasem Sasak melawan kerajaan Mataram. Perang itu meletus di sebabkan oleh pertikaian masalah air antara desa Kateng (wilayah Lombok Tengah bagian selatan) yang ada di bawah kekuasaan kerajaan Karangasem sasak dengan desa Penujak (juga wilayah Lombok Tengah bagian selatan) yang berada di bawah kekuasaan kerajaan Mataram. Raja Mataram I Gusti Ngurah Ketut Karangasem menyatakan perang karena kerajaan Karangasem Sasak mengambil desa Penujak dan daerah sekitarnya ke dalam wilayahnya.
Pada mulanya Karangasem Sasak lebih kuat di banding dengan Mataram, namun kemudian keadaannya menjadi berubah kerajaan Mataram berangsur-angsur bertambah kuat berkat datangnya bantuan dari Karangasem di Bali. Demikian juga King membantu Mataram dengan kapalnya mengangkut senjata yang dibeli dari Singapura dan pasukan sekitar sepuluh ribu orang yang didatangkan dari Karangasem.
Akhirnya pada pertengahan tahun 1838 raja Mataram I Gusti Ngurah Ketut Karangasem tewas. Pasukan Mataram terus mengepung istana kerajaan Karangasem Sasak sehingga raja Karangasem Sasak I Gusti Ngurah Made Karangasem melakukan perang habis-habisan, yaitu puputan bersama lebih kurang tiga ratus orang termasuk keluarganya, kecuali dua orang anaknya laki-laki berumur 10 tahun dapat di selamatkan.
Pada tahun 1835 raja Karangasem Sasak Ratu Ngurah Made Karangasem meninggal, kemudian digantikan oleh putranya Ratu Gusti Ngurah Panji yang kemudian bergelar I Gusti Ngurah Made Karangasem, dibawah pemerintahannya konflik antara kerajaan Karangasem Sasak dengan kerajaan Mataram semakin tajam, oleh adanya campur tangan dua orang pedagang asing yaitu Mads Lange dari Denmark dan George Morgan King dari Inggris. Mads Lange menjalankan usahanya di pelabuhan Tanjungkarang sedangkan King di pelabuhan Ampenan.. kedua pedagang ini diijinkan oleh raja kerajaan Karangasem Sasak untuk menjalankan usahanya. George Morgan King berambisi sekali untuk mendapatkan monopoli perdagangan di Lombok, sehingga menimbulkan konflik dengan syahbandar Cina di Ampenan. Akhirnya pada tahun 1836 dia diusir dari Ampenan oleh raja Karangasem Sasak sehingga ia pindah ke Kuta Bali. Di Kuta ia tinggal hanya beberapa bulan saja, kemudian dia datang lagi ke Ampenan dan minta perlindungan raja Mataram I Gusti Ngurah Ketut Karangasem. Rupanya pedagang asing itu memanfaatkan sekali situasi konflik antara dua kerajaan tersebut untuk meraih keuntungan, terutama dalam perdagangan senjata, mesiu, dan alat-alat perang lainnya.
Pada bulan Januari 1838 pecahlah perang antara kerajaan Karangasem Sasak melawan kerajaan Mataram. Perang itu meletus di sebabkan oleh pertikaian masalah air antara desa Kateng (wilayah Lombok Tengah bagian selatan) yang ada di bawah kekuasaan kerajaan Karangasem sasak dengan desa Penujak (juga wilayah Lombok Tengah bagian selatan) yang berada di bawah kekuasaan kerajaan Mataram. Raja Mataram I Gusti Ngurah Ketut Karangasem menyatakan perang karena kerajaan Karangasem Sasak mengambil desa Penujak dan daerah sekitarnya ke dalam wilayahnya.
Pada mulanya Karangasem Sasak lebih kuat di banding dengan Mataram, namun kemudian keadaannya menjadi berubah kerajaan Mataram berangsur-angsur bertambah kuat berkat datangnya bantuan dari Karangasem di Bali. Demikian juga King membantu Mataram dengan kapalnya mengangkut senjata yang dibeli dari Singapura dan pasukan sekitar sepuluh ribu orang yang didatangkan dari Karangasem.
Akhirnya pada pertengahan tahun 1838 raja Mataram I Gusti Ngurah Ketut Karangasem tewas. Pasukan Mataram terus mengepung istana kerajaan Karangasem Sasak sehingga raja Karangasem Sasak I Gusti Ngurah Made Karangasem melakukan perang habis-habisan, yaitu puputan bersama lebih kurang tiga ratus orang termasuk keluarganya, kecuali dua orang anaknya laki-laki berumur 10 tahun dapat di selamatkan.
Setelah
kerajaan Mataram menang melawan kerajaan Karangasem Sasak. Raja Mataram I Gusti
Ngurah Ketut Karangasem yang langsung menggantikan ayahnya yang gugur, dan
mengangkat Ida Ratu menjadi raja di Karangasem Sasak dengan gelar I Gusti Ngurah Made karangasem.
Menjelang akhir tahun 1838 raja Mataram I Gusti Ngurah Ketut Karangasem memindahkan Ibukota kerajaannya ke wilayah kerajaan Karangasem Sasak Lombok, kemudian beberapa tahun kemudian bekas ibukota Karangasem Sasak selesai dibina, dan tahun 1866 diganti namanya menjadi kerajaan Cakranegara. Cakra menurut bahasa sansekerta berarti lingkaran atau bundaran, dan Negara adalah kota, hunian, atau negeri. Jadi Cakranegara berarti kota hunian yang bundar melingkar.
Menjelang akhir tahun 1838 raja Mataram I Gusti Ngurah Ketut Karangasem memindahkan Ibukota kerajaannya ke wilayah kerajaan Karangasem Sasak Lombok, kemudian beberapa tahun kemudian bekas ibukota Karangasem Sasak selesai dibina, dan tahun 1866 diganti namanya menjadi kerajaan Cakranegara. Cakra menurut bahasa sansekerta berarti lingkaran atau bundaran, dan Negara adalah kota, hunian, atau negeri. Jadi Cakranegara berarti kota hunian yang bundar melingkar.
Masa-masa Kepemerintahan Kerajaan Cakranegara Lombok
Masa dari tahun 1866 sampai 1900 pemerintahan Cakranegara tumbuh subur dan
makmur
walaupun pada waktu itu ada beberapa kekacauan seperti terjadi
perselisihan-perselisihan antara masyarakat Hindu dengan masyarakat asli (suku
Sasak), dilanjutkan dengan datangnya ekspedisi
Belanda tahun 1894 mulai ada campurtangan Belanda, hal ini tidak terlalu
berpengaruh terhadap perkembangan kota Cakranegara.
Masa dari tahun 1900 sampai 1945 (masa kebangkitan Nasional), pada masa ini terjadi dualisme pemerintahan. Pemerintahan Hindu berpusat di Cakranegara, sedangkan pemerintahan Belanda berpusat di pertengahan antara Mataram dengan Ampenan. Belanda mulai mengarahkan usahanya bagi pembangunan ekonomi, dengan cara dibangunnya beberapa sarana dan prasarana pemerintahan seperti gedung kantor (kantor assisten residen, kontrolir, distrik), pasar, perumahan, dan jalan raya.
Pada masa ini sudah mulai diperhatikan tentang pengembangan wilayah, tidak saja pengembangan dari segi fisik namun dari segi lainnya seperti : pendidikan , ekonomi, dan sosial budaya. dengan berkembangnya sistem pendidikan modern pengaruh kekuatan Eropa mulai menyerap secara berangsur-angsur terutama wilayah Ampenan, sedikit berpengauh di wilayah Mataram dan Cakranegara. dengan dibangunnya sebuah HIS, beberapa buah volkschool dan vervolgschool di tiap-tiap ibukota kedistrikan.
Jika sebelum kekuasaan Belanda datang di pulau Lombok ini hampir seluruh orang Sasak maupun orang Hindu menumpu kehidupannya dari hasil pertanian. Pada masa kedudukan Belanda hubungan dengan dunia luar cukup baik, hal ini terbukti oleh adanya kedatangan bangsa-bangsa lainnya seperti Cina dan Arab, berdatangan menginjak ke Pulau Lombok ini melalui pelabuhan Ampenan. Dan akhirnya di kota Ampenan inilah mulai berkembang pusat perdagangan sebagai benteng perekonomian bagi bangsa Belanda dan lambat laun mengarah ke Mataram dan akhirnya ke Cakranegara.
Masa dari tahun 1945 sampai 1959. pada masa ini pergantian kepemimpinan pemerintahan di pulau Lombok. Untuk Lombok timur oleh Mamiq Padelah, Lombok tengah Lalu Srinata, dan Lombok barat I Gusti Ngurah berpusat di Cakranegara. pada tahun 1950, masuk wilayah republik Indonesia dan terbentuknya pemerintahan daerah tingkat I Nusa Tenggara Barat berpusat di Mataram, tentang perpindahan ibukota pemerintahan ke wilayah Mataram tidak dijelaskan secara rinci.
Masa dari tahun 1959 sampai 1965 (daerah tingkat II Lombok Barat dengan bupati pertama Lalu Anggrat, BA). Pada masa ini pusat pemerintahan tidak lagi di Cakranegara, melainkan di Mataram, oleh sebab itu kebijakan pemerintah pada masa ini lebih banyak mengambil tindakan yang strategis dan mendasar dibidang pemerintahan untuk kota Mataram khususnya, dan menghapus struktur birokrasi pemerintahan wilayah kepunggawaan orang Bali, (kepunggawaan Cakranegara) diganti dengan kedistrikan Cakranegara yang tidak lagi khusus membawahi seluruh permukiman masyarakat Hindu-Bali. Kedudukan kedistrikan Cakranegara disamakan dengan kedistrikan lainnya yang mempunyai satu wilayah pemerintahan berdasarkan teritorial.
Masa dari tahun 1965 sampai 1972 (daerah tingkat II Lombok Barat dengan bupati kedua Drs. Sa`id). Pada masa ini sistem pemerintahan kedistrikan yang di bentuk oleh Lalu Angrat, BA dihapus karena mempunyai nuansa “negara di dalam negara” dan diganti dengan pemerintahan Kecamatan.
Sejak dari tahun 1972 sampai sekarang, kota Cakranegara yang dahulunya merupakan ibukota pemerintahan terbesar di pulau ini, kini berubah menjadi sebuah kota kecamatan, di bawah kodya Mataram. Hal ini sedikit berpengaruh terhadap penentuan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan wilayahnya.
Masa dari tahun 1900 sampai 1945 (masa kebangkitan Nasional), pada masa ini terjadi dualisme pemerintahan. Pemerintahan Hindu berpusat di Cakranegara, sedangkan pemerintahan Belanda berpusat di pertengahan antara Mataram dengan Ampenan. Belanda mulai mengarahkan usahanya bagi pembangunan ekonomi, dengan cara dibangunnya beberapa sarana dan prasarana pemerintahan seperti gedung kantor (kantor assisten residen, kontrolir, distrik), pasar, perumahan, dan jalan raya.
Pada masa ini sudah mulai diperhatikan tentang pengembangan wilayah, tidak saja pengembangan dari segi fisik namun dari segi lainnya seperti : pendidikan , ekonomi, dan sosial budaya. dengan berkembangnya sistem pendidikan modern pengaruh kekuatan Eropa mulai menyerap secara berangsur-angsur terutama wilayah Ampenan, sedikit berpengauh di wilayah Mataram dan Cakranegara. dengan dibangunnya sebuah HIS, beberapa buah volkschool dan vervolgschool di tiap-tiap ibukota kedistrikan.
Jika sebelum kekuasaan Belanda datang di pulau Lombok ini hampir seluruh orang Sasak maupun orang Hindu menumpu kehidupannya dari hasil pertanian. Pada masa kedudukan Belanda hubungan dengan dunia luar cukup baik, hal ini terbukti oleh adanya kedatangan bangsa-bangsa lainnya seperti Cina dan Arab, berdatangan menginjak ke Pulau Lombok ini melalui pelabuhan Ampenan. Dan akhirnya di kota Ampenan inilah mulai berkembang pusat perdagangan sebagai benteng perekonomian bagi bangsa Belanda dan lambat laun mengarah ke Mataram dan akhirnya ke Cakranegara.
Masa dari tahun 1945 sampai 1959. pada masa ini pergantian kepemimpinan pemerintahan di pulau Lombok. Untuk Lombok timur oleh Mamiq Padelah, Lombok tengah Lalu Srinata, dan Lombok barat I Gusti Ngurah berpusat di Cakranegara. pada tahun 1950, masuk wilayah republik Indonesia dan terbentuknya pemerintahan daerah tingkat I Nusa Tenggara Barat berpusat di Mataram, tentang perpindahan ibukota pemerintahan ke wilayah Mataram tidak dijelaskan secara rinci.
Masa dari tahun 1959 sampai 1965 (daerah tingkat II Lombok Barat dengan bupati pertama Lalu Anggrat, BA). Pada masa ini pusat pemerintahan tidak lagi di Cakranegara, melainkan di Mataram, oleh sebab itu kebijakan pemerintah pada masa ini lebih banyak mengambil tindakan yang strategis dan mendasar dibidang pemerintahan untuk kota Mataram khususnya, dan menghapus struktur birokrasi pemerintahan wilayah kepunggawaan orang Bali, (kepunggawaan Cakranegara) diganti dengan kedistrikan Cakranegara yang tidak lagi khusus membawahi seluruh permukiman masyarakat Hindu-Bali. Kedudukan kedistrikan Cakranegara disamakan dengan kedistrikan lainnya yang mempunyai satu wilayah pemerintahan berdasarkan teritorial.
Masa dari tahun 1965 sampai 1972 (daerah tingkat II Lombok Barat dengan bupati kedua Drs. Sa`id). Pada masa ini sistem pemerintahan kedistrikan yang di bentuk oleh Lalu Angrat, BA dihapus karena mempunyai nuansa “negara di dalam negara” dan diganti dengan pemerintahan Kecamatan.
Sejak dari tahun 1972 sampai sekarang, kota Cakranegara yang dahulunya merupakan ibukota pemerintahan terbesar di pulau ini, kini berubah menjadi sebuah kota kecamatan, di bawah kodya Mataram. Hal ini sedikit berpengaruh terhadap penentuan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan pengembangan wilayahnya.
Sumber :
1. C.C. Berg, De
Middeljavaansche Historische Traditie (Santpoort : C.A. Mees, 1927), halaman
138-139.2. M. lihat C.C. Berg, De Middeljavaansche Historische Traditie , ibid. halaman 146.
3. C.C. Berg dalam tesisnya De Middeljavaansche Historische
Traditie , 1927 , halaman 160-167.
4. De Graaf, op.cit. hlm. 371-373. penjelasan selanjutnya di uraikan dalam perluasan kekuasaan Kerajaan karangasem ke Pulau Lombok.
5. Sartono Kertodirdjo, Beberapa persoalan sekitar sejarah Indonesia. Lembaran sejarah, 2.,1960, hlm. 16.
6. H.J. De Graaf, Lombok in de 17e eeuw , Djawa, 21 ej, no. 6, 1941, halaman 372.
7. Babad Lombok (Manuskrip). Bunga Rampai Kutipan Naskah Lama dan Aspek pengetahuannya. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Museum Negeri Nusa Tenggara Barat., hlm. 18-20.
8. Proyek pengembangan permuseuman Nusa Tenggara Barat, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, babad Selaparang 1979, halaman 15-16.
9. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Sejarah Daerah NTB , Op.Cit, halaman 47-49.
10. I Made Karta, Pelelintih Sira Arya gajah Para dan Sira Arya Getas , halaman 39.
11. Babad Banjar getas (naskah).
12. Babad Lombok (manuskrip).
13. W, Cool, De Lombok Expeditie , 1896, hlm 224; cf.E. Utrecht, Sejarah Hukum Internasional di bali dan Lombok , Op.Cit; halaman 99.
14. Adatrechtbundels, XV : Bali en Lombok (S-Gravenhage : Martinus Nijhoff, 1918), halaman 140.
15. Tentang nama I Gusti Wayan Tegeh, W. Cool dan Stutterheim menyebut Goesti Wayan Taga. Lihat Stutterheim, Ean inscriptie Van Lombok. Djawa, 17, 5-6, (1937), hlm, 309. disamping itu Byvanck menyebut Goesti Wayan Tegoe atau Wayan Taga. Lihat Byvanck, Onze betrekkingen tot Lombok, De Gids,IV, (1894), hlm, 134-135. Nama I Gusti Wayan Tegeh juga disebut dalam tulisannya Van der Kraan, Lombok : Conquest, Colonization and Linderdevelopment, 1870-1940 (1980), hlm, 5. lihat juga Ide Anak Agung Gde Agung, Bali pada Abad XIX , Op.Cit ., hlm. 109.
16. C. Lekkerkerker, Bali 1800-1814 . BKI, Deel : 82, (1926), halaman 334-336.
17. Babad Lombok (munaskrip), lembar 13a.
18. Peranan agama, dalam hal ini Pura sebagai symbol keagamaan dan kepercayaan dapat memperkuat ikatan kelompok-kelompok sosial tradisional di antara individu-individu. Lihat Clifford Geertz, Kebudayaan dan Agama , Yogyakarta, Penerbit Kanisius, 1992 , halaman 71.
19. Lihat Pamantjangah Anak Agoeng Agoeng Karangasem, (naskah ketik), hlm. 12, lihat juga Babad Arya Karangasem Jero Kelodan Kol.V.d. Tuuk, Leiden, L. or. 191897, lembar 8b-9a.
20 Lihat Uwung Kadiri Kol.V.d. Tuuk, Leiden, Or. 3867.
21. Lihat Ide Anak Agung Gde Agung, Bali pada Abad XIX , Op.Cit., 1990, halaman 105.
22. Lihat Cf. Rereq Karangasem, (munaskrip), lembar 1b,. lihat juga Babad Karangasem Sasak, (munaskrip), lembar 3b.
23. A.K. Nielsen, Leven en Avonturen Van een Oostinje vaarder op Bali . Amsterdam : Em. Queridi`s Uitgever Maatsch`ij, 1928 , halaman 31-32.
24. Lihat Ide Anak Agung Gde Agung, Bali pada Abad XIX , Op.Cit., 1990, halaman 110.
25. Ibid Ide Anak Agung Gde Agung, halaman 111.
26. Lihat Anak Agung Ketut Agung, Kupu-kupu Kuning yang terbang di selat Lombok., Denpasar :
Upada Sastra, 1991.
27. Wacana, H.L., Sejarah Daerah Nusa Tenggara Barat ., Op.Cit., 1988, halaman 85.
4. De Graaf, op.cit. hlm. 371-373. penjelasan selanjutnya di uraikan dalam perluasan kekuasaan Kerajaan karangasem ke Pulau Lombok.
5. Sartono Kertodirdjo, Beberapa persoalan sekitar sejarah Indonesia. Lembaran sejarah, 2.,1960, hlm. 16.
6. H.J. De Graaf, Lombok in de 17e eeuw , Djawa, 21 ej, no. 6, 1941, halaman 372.
7. Babad Lombok (Manuskrip). Bunga Rampai Kutipan Naskah Lama dan Aspek pengetahuannya. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Museum Negeri Nusa Tenggara Barat., hlm. 18-20.
8. Proyek pengembangan permuseuman Nusa Tenggara Barat, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, babad Selaparang 1979, halaman 15-16.
9. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Sejarah Daerah NTB , Op.Cit, halaman 47-49.
10. I Made Karta, Pelelintih Sira Arya gajah Para dan Sira Arya Getas , halaman 39.
11. Babad Banjar getas (naskah).
12. Babad Lombok (manuskrip).
13. W, Cool, De Lombok Expeditie , 1896, hlm 224; cf.E. Utrecht, Sejarah Hukum Internasional di bali dan Lombok , Op.Cit; halaman 99.
14. Adatrechtbundels, XV : Bali en Lombok (S-Gravenhage : Martinus Nijhoff, 1918), halaman 140.
15. Tentang nama I Gusti Wayan Tegeh, W. Cool dan Stutterheim menyebut Goesti Wayan Taga. Lihat Stutterheim, Ean inscriptie Van Lombok. Djawa, 17, 5-6, (1937), hlm, 309. disamping itu Byvanck menyebut Goesti Wayan Tegoe atau Wayan Taga. Lihat Byvanck, Onze betrekkingen tot Lombok, De Gids,IV, (1894), hlm, 134-135. Nama I Gusti Wayan Tegeh juga disebut dalam tulisannya Van der Kraan, Lombok : Conquest, Colonization and Linderdevelopment, 1870-1940 (1980), hlm, 5. lihat juga Ide Anak Agung Gde Agung, Bali pada Abad XIX , Op.Cit ., hlm. 109.
16. C. Lekkerkerker, Bali 1800-1814 . BKI, Deel : 82, (1926), halaman 334-336.
17. Babad Lombok (munaskrip), lembar 13a.
18. Peranan agama, dalam hal ini Pura sebagai symbol keagamaan dan kepercayaan dapat memperkuat ikatan kelompok-kelompok sosial tradisional di antara individu-individu. Lihat Clifford Geertz, Kebudayaan dan Agama , Yogyakarta, Penerbit Kanisius, 1992 , halaman 71.
19. Lihat Pamantjangah Anak Agoeng Agoeng Karangasem, (naskah ketik), hlm. 12, lihat juga Babad Arya Karangasem Jero Kelodan Kol.V.d. Tuuk, Leiden, L. or. 191897, lembar 8b-9a.
20 Lihat Uwung Kadiri Kol.V.d. Tuuk, Leiden, Or. 3867.
21. Lihat Ide Anak Agung Gde Agung, Bali pada Abad XIX , Op.Cit., 1990, halaman 105.
22. Lihat Cf. Rereq Karangasem, (munaskrip), lembar 1b,. lihat juga Babad Karangasem Sasak, (munaskrip), lembar 3b.
23. A.K. Nielsen, Leven en Avonturen Van een Oostinje vaarder op Bali . Amsterdam : Em. Queridi`s Uitgever Maatsch`ij, 1928 , halaman 31-32.
24. Lihat Ide Anak Agung Gde Agung, Bali pada Abad XIX , Op.Cit., 1990, halaman 110.
25. Ibid Ide Anak Agung Gde Agung, halaman 111.
26. Lihat Anak Agung Ketut Agung, Kupu-kupu Kuning yang terbang di selat Lombok., Denpasar :
Upada Sastra, 1991.
27. Wacana, H.L., Sejarah Daerah Nusa Tenggara Barat ., Op.Cit., 1988, halaman 85.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar